Bahasa Indonesia yang mulai terpuruk di negara Indonesia

Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Bangsa Indonesia sudah jelas tercantum pada Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945 yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai ilmu dan bahasa utama di Indonesia termasuk bahasa pengantar dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah maupun universitas. Bahkan bahasa Indonesia juga menjadi bahasa resmi yang digunakan oleh pemerintahan daerah di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, dari Sabang sampai Merauke masyarakat Indonesia harus bisa berbahasa Indonesia. Karena tanpa kita sadari, kita telah tumbuh menjadi bangsa yang menghargai persatuan. Masyarakat kita toleransi dengan adanya perbedaan suku, ras, agama, dan bahasa daerah yang sangat beragam jumlahnya. Maka dari itu, penggunaan bahasa dinilai sangatlah penting, karena bahasa juga menunjukan identitas suatu bangsa.

Tetapi bahasa Indonesia di Indonesia saat ini rasanya mungkin sudah turun pamor. Penggunaan tata bahasa dan pelafalannya sudah kurang sesuai dengan apa yang sudah diatur dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan. Penggunaan bahasa asing yang berlebihan menyebabkan hal ini terjadi. Saat ini masyarakat Indonesia lebih bangga menggunakan bahasa asing dibandingkan bahasa asli Indonesia. Mereka fikir kalau hanya belajar bahasa Indonesia saja, mereka tidak akan maju. Namun disini lah permasalahannya, penggunaan bahasa asing yang berlebihan menyebabkan semakin terpuruknya bahasa Indonesia.

Meskipun bahasa Indonesia menjadi bahasa sehari-hari, namun masih banyak masyarakat yang tidak menguasai bahasa Indonesia. Buktinya pada saat saya ujian nasional, banyak sekali teman-teman yang kesulitan dengan ujian bahasa Indonesia. Rata-rata mereka lebih faham dengan bahasa inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Dan mereka lebih bangga mendapat nilai bahasa inggris yang tinggi dibandingkan nilai bahasa Indonesia yang tinggi. Jelas, kita harus menyayangkan hal ini. Karena pada kenyataannya para guru pun lebih memproritaskan bahasa inggris daripada bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia hanya menjadi formalitas di sekolah-sekolah. Para murid tidak diajarkan untuk mendalami betul bahasa Indonesia, padahal bahasa Indonesia akan terbina dengan baik apabila anak-anak mulai mendalami bahasa Indonesia sejak kecil. Seperti membiasakan anak membaca koran, karya sastra, esai, dll.

Dengan semakin berkembangnya zaman dan teknologi, banyak bahasa asing terus saja berdatangan. Hal ini tentu saja tidak bisa kita tepis, karena kata yang mulai bermunculan itu masih belum ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jadi, masyarakat terpaksa menggunakan bahasa teknologi asing seperti browsing, connecting, blogging, dll. Mungkin bukan hanya itu, ada ratusan bahkan ribuan kata-kata asing yang langsung diadopsi oleh masyarakat Indonesia. Mestinya Indonesia jangan mau kalah. Ketika muncul kata-kata asing yang baru, maka harus secepatnya menemukan arti kata itu dalam versi bahasa Indonesia untuk disepadankan. Jika tidak, lama kelamaan bahasa Indonesia akan kalah saing bahkan di negaranya sendiri.

Bukan hanya dibidang teknologi, bahasa asing terus bermunculan dibidang ekonomi, media, politik, dll. Sekarang banyak para pejabat negeri yang berpidato didepan masyarakat daerah tetapi para masyarakat itu kurang mengerti apa yang beliau bicarakan dalam pidatonya. Mereka merasa bahasa Indonesia orang daerah dengan orang jakarta atau di kota besar lainnya sudah mulai berbeda.  Misalnya saja pada saat Gubernur Banten berpidato didaerah banten lama dan berbicara tentang pembenahan daerah secara aspiratif dan solutif , masyarakat  bertanya-tanya “aspiratif dan solutif ? itu maksudnya apa?”. Apakah ini bentuk bentuk ketidak pedulian terhadap bahasa Indonesia? Saya rasa tidak juga.

Seperti halnya bahasa-bahasa lain, bahasa Indonesia didesak oleh bahasa inggris. Masyarakat sekarang tumbuh dengan pengaruh bahasa asing yang kuat. Akibatnya, saat kata-kata asing itu datang dan belum dicantumkan arti sesungguhnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka masyarakat akan ‘asal pakai’ dan akhirnya keluarlah bahasa yang campur aduk. Maka dari itu, sebaiknya para pejabat harus menyadari pentingnya bahasa Indonesia yang baik dan benar agar tidak terjadi kesenjangan antara para pejabat dan rakyatnya. Karena tidak semua masyarakat mengerti dengan kata-kata asing yang rumit seperti itu.

Bahasa Indonesia sebenarnya bukan hanya dipengaruhi bahasa asing saja, tetapi munculnya kata-kata baru dikalangan masyarakat kota yang dianggap ‘bahasa gaul’ juga dapat menghambat perkembangan bahasa Indonesia pada generasi muda yang akan datang. Seperti kata alay yang mempunyai arti berlebihan, lalu bokap-nyokap yang artinya orang tua, dll. Mereka menganggap orang yang memakai bahasa baku itu orang yang norak, kampungan ataupun ketinggalan zaman. Sekarang saja kita dapat merasakan bahasa orang-orang daerah asli dengan orang perkotaan jauh berbeda. Orang daerah masih memakai bahasa Indonesia asli saat ia tidak menggunakan bahasa daerahnya. Jelas, ini akan menunjukan kesenjangan antara masyarakat kota dengan masyarakat daerah. Padahal kalau hal ini terus terjadi, lama-kelamaan tentu saja bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD akan punah karena masyarakat daerah tidak mau kalah dengan masyarakat kota.

Padahal bahasa Indonesia juga dulu mempunyai kedudukan yang baik bukan hanya di Indonesia atau di negara-negara tetangga saja, di lingkup internasional pun bahasa Indonesia mendapat kedudukan yang baik. Sekitar 44 negara mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah maupun di perguruan tingginya. Dengan semakin banyaknya orang yang belajar bahasa Indonesia semestinya hal ini dapat memicu bahasa Indonesia menjadi bahasa wajib minimal di wilayah Asia. Tapi pada kenyataannya sekarang bahasa Indonesia tidak lebih populer dibandingkan dengan bahasa Jerman, bahasa Jepang, bahasa Mandarin maupun bahasa Arab. Bagaimana mau lebih populer dari bahasa lain, masyarakat Indonesianya saja sudah kurang peduli dengan bahasanya sendiri.

Dulu, banyak negara-negara yang membuka departemen bahasa Indonesia di Perguruan Tingginya. Namun sejak beberapa tahun yang lalu banyak sekali departemen bahasa Indonesia yang tepaksa dihentikan bahkan ditutup karena tidak ada mahasiswa yang berminat dengan bahasa Indonesia. Banyak yang mengatakan bahasa Indonesia itu mudah. Padahal bahasa Indonesia sama saja sulitnya dengan bahasa-bahasa lain seperti bahasa Jepang, Mandarin atau bahasa Spanyol. Hal ini yang menjadikan promosi bahasa Indonesia menurun drastis. Mereka berfikir karena bahasa Indonesia mudah, jadi tidak penting untuk dipelajari.

Saya pernah menemukan berita tentang orang Australia yang belajar didepartemen bahasa Indonesia di Universitasnya datang ke Indonesia dengan berbahasa Indonesia baku. Lama-kelamaan ia menyadari bahwa bahasa Indonesia yang ia pelajari di Universitas jauh berbeda dengan bahasa yang dipakai oleh bangsa Indonesia itu sendiri. Dan ia merasa apa yang sudah ia pelajari itu tidak begitu berguna saat ia berada ditengah masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia sudah jarang ada yang berbicara bahasa Indonesia baku dikesehariannya. Banyak bahasa atau kata-kata yang asal dan seenaknya mereka pakai dalam komunikasi sehari-hari. Itu artinya, masyarakat Indonesia sendiri lah yang menyebabkan bahasa Indonesia turun pamor di lingkup internasional.

Pemakaian bahasa Indonesia yang salah secara terus menerus menyebabkan kebiasaan yang otomatis akan diturunkan pada generasi yang akan datang. Contohnya saja, saya sudah sering melihat banyak Apotek yang membuat spanduk dengan tulisan “Apotik” padahal sudah jelas kita tahu bahwa tulisan yg benar sesuai dengan EYD adalah “Apotek”. Lalu kata analisa yang sering digunakan oleh masyarakat, padahal kata yang sesungguhnya adalah “Analisis” dan masih banyak kata yang lain yang luput dari pandangan kita. Tentu saja hal ini jelas akan menimbulkan kebingungan bagi warga asing yang belajar bahasa Indonesia maupun masyarakat Indonesia itu sendiri. Bahkan dikalangan formal pun banyak masyarakat yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, mereka cenderung bebas dalam berbahasa. Belum lagi beberapa tahun terakhir ini  bahasa Informal mulai dimasukkan ke dalam kurikulum.

Kita selalu bangga jika ada orang asing yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Namun, kenapa saat orang Indonesia itu sendiri tidak bisa berbahasa yang baik dan benar kita tidak memperdulikan hal itu? Seakan-akan kita tidak menganggap penting bahasa Indonesia. Padahal sebuah bahasa berpeluang menjadi bahasa internasional karena kecendikiawan dan kemahiran penuturnya berbahasa. Tetapi bagaimana bahasa Indonesia bisa berpeluang  menjadi bahasa Internasional, bahasanya saja amburadul. Bahasa di Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan bahasa yang dipakai masyarakat sudah sangat jauh berbeda.

Kesalahan dalam berbahasa ini sudah seharusnya menjadi permasalahan yang harus cepat diselesaikan. Jika tidak, lalu bagaimana dengan nasib bahasa Indonesia ini di masa depan? Maka dari itu semestinya pemerintah harus mulai bergerak untuk menyelesaikan masalah yg dianggap sepele namun sangat penting ini.

Solusi yang bisa diambil misalnya, dengan lebih memperdalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sejak pendidikan usia dini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Harus ada kegiatan yang terus menerus dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia baku di kelompok-kelompok besar seperti birokrasi atau partai-partai politik, ekonomi, militer, maupun dunia akademik (pendidikan). Dengan itu, masyarakat akan belajar dan memakai bahasa Indonesia sesuai dengan EYD secara efektif. Meminimalisir adanya kata yang jelas-jelas salah namun masih terus dipakai. Terus mempromosikan dan membenarkan bahasa yang salah melalui media masa seperti koran, majalah, maupun televisi. Walaupun media masa memerlukan bahasa yang santai agar mudah diserap oleh masyarakat, namun penggunaan bahasa Indonesia yang baku tidak boleh dikesampingkan. Membuat program bahasa Indonesia di sekolah-sekolah, program ini harus dibuat sedemikian rupa agar siswa tertarik untuk mengikuti program itu seperti dengan hiburan, lelucon yang seru dan lain-lain yang dapat membuat siswa bersemangat menggunakan bahasa Indonesia baku sebagai bahasa kesehariannya. Bukan hanya para siswa, para guru pun harus bisa mengajar dengan bahasa Indonesia yang baku. Karena saya sudah sering melihat dan merasakan sendiri bahwa guru-guru sekarang sudah jarang ada yang menggunakan bahasa yang baku dalam mengajar. Dengan alasan ‘agar lebih santai’, para guru lebih memilih bahasa informal pada setiap ia mengajar daripada bahasa baku yang lebih formal. Padahal, pendidikan merupakan faktor utama dalam pengembangan bahasa dan pengembangan pola fikir siswa sebagai generasi penerus.

Dengan begini, masyarakat Indonesia tidak akan ketinggalan zaman hanya karena terus berbahasa Indonesia. Mereka memang dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman, namun tidak untuk sekedar ikut-ikutan dan dengan asal mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari. Kalau bangsa Indonesia terus-menerus hanya menjadi penerima apa yang negara lain buat, maka negara ini akan susah untuk maju. Oleh karena itu, kita harus bangga karena mempunyai bahasa sendiri yang dapat menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang kreatif dalam memunculkan bahasa baru daripada hanya mengambil bahasa asing lalu memakainya begitu saja tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Dengan mempunyai bahasa sendiri, maka rahasia-rahasia negara tidak akan bocor oleh negara lain.

Walaupun bahasa daerah juga sangat penting dipertahankan, tetapi bahasa Indonesia juga sangat penting untuk terus dipelajari demi menyatukan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak akan terpuruk di negara Indonesia apabila masyarakatnya dapat menempatkan kapan ia harus berbahasa daerah atau berbahasa asing. Dewan pusat bahasa pun harus berperan aktif dalam pembentukkan istilah baru atau mencari padanan kata istilah asing ke dalam bahasa Indonesia dibidang kedokteran, teknologi, ekonomi maupun media masa.

Jadi sudah seharusnya kita bangga dengan bahasa Indonesia dan terus menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari dan tidak mencampur-adukkan dengan bahasa asing maupun bahasa yang tidak jelas agar bahasa Indonesia mempunyai ciri khusus yang berbeda dengan bahasa lain. Sehingga masyarakat internasional dapat mengetahui perbedaan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu yang memang hampir mirip. Dan mereka dapat lebih mudah mempelajari bahasa Indonesia dan tidak lagi mendapat kesulitan berbicara bahasa Indonesia dengan orang Indonesia asli, karena masyarakat Indonesia sudah bisa berbicara sesuai dengan EYD dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Articles made by : Rani Anggita

Advertisements

Tips Sukses Menghadapi Ujian Nasional

1. PERSIAPKAN DIRI KAMU JAUH SEBELUM UJIAN.

Persiapan sebelum perang adalah suatu yg wajib bagi seorang prajurit. Begitu dengan kamu-kamu yang akan mengikuti ujian nasional (UN) tahun 2012 ini. Kamu kudu mempersiapkan diri dengan baik, baik mental, fisik, pikiran, dan keyakinan. Jangan kamu menghadapi ujian dengan mental dan fisik serta pikiran yang tidak siap, karena berarti kamu sudah kalah sebelum perang dimulai. Caranya jangan anggap ujian sebagai suatu yang menakutkan, tetapi cobalah rileks dan enjoy.

2. KUASAI MATERI PELAJARAN DENGAN BAIK.

Ini sangat penting. Kalau ibarat prajurit mau perang kamu harus siapkan senjata. Kalau kamu mau ujian tetapi tidak menguasai materi pelajaran alias modal nekat doank, itu namanya cari mati. Jelas aja nggak bakalan lulus ujian. Materi pelajaran harus dikuasai sebaik-baiknya minimal 1 bulan sebelum ujian berlangsung. Kamu bisa belajar mandiri, belajar kelompok dengan teman, ikut bimbingan belajar atau ambil bahan-bahan belajar di internet, dsb.

3. KALAU PERLU AMBIL BIMBINGAN BELAJAR (BIMBEL).

Seandainya kamu memang harus ikut bimbel untuk menguasai pelajaran kenapa tidak? Dengan ikut bimbel kamu juga akan dibekali ilmu-ilmu bagaimana menghadapi ujian, cara memilih jurusan di perguruan tinggi, dan tentu saja penguasaan materi pelajaran yang lebih baik.

4. JANGAN PERNAH MENERAPKAN SISTEM KEBUT SEMALAM (SKS).

Nah ini kudu harus dihindari, karena percayalah bahwa kamu tidak akan bisa menyelesaikan soal ujian dengan baik hanya dengan belajar kebut semalam. Disamping paginya kamu ngak bakalan fresh karena semalaman begadang, otak kamu juga akan terforsir sehingga esok harinya justru otak kamu akan mengalami kemunduran berfikir. Jadi hindari sistem belajar seperti ini. Kalau bisa malam sebelum ujian kamu tidur dan istirahat yang cukup agar besoknya rileks dan otak kamu jadi fresh.

5. JANGAN PERNAH BERNIAT MEMBUAT JIMAT ATAU MINTA TUNJUKKAN PADA ORANG LAIN.

Nah ini juga kudu harus dihindari. Membuat jimat untuk ujian atau berharap mendapatkan jawaban dari orang lain, guru misalnya (bagi guru yang tidak mengerti arti pendidikan bagi anak didiknya). Karena kecurangan ujian nasional sering terjadi justru jawaban diberikan oleh guru, karena takutnya siswanya tidak lulus ujian, padahal justru dia melecehkan dirinya sendiri sebagai guru, bahwa dia tidak bisa mengajar dengan baik. Mohon maaf bagi yang guru yang tersinggung.

6. CARI REFERENSI BELAJAR VIA INTERNET.

Internet adalah sumber belajar yang bisa kamu manfaatkan. Situs ini misalnya menyedikan berbagai bahan belajar yang bisa kamu download untuk persiapan ujian nasional. Kamu bisa download prediksi soal-soal UN 2012 serta kunci jawabannya.

7. JANGAN HABISKAN WAKTU UNTUK HURA-HURA DAN MAIN.

Waktu sangat berharga sebagaimana juga masa depan kamu. Oleh karenanya jangan sia-siakan masa depan kamu dengan menghabiskan waktu bermain-main dan berhura-hura. Persiapakan diri dengan belajar agar cita-cita dan tujuan kamu berhasil. Jangan biarkan diri kamu menyesal nanti setelah ujian tidak lulus karena sebelum ujian kamu tidak belajar dan banyak bermain dan hura-hura.

8. USAHA YANG MAKSIMAL MENGHADAPI UJIAN.

Setinggi apa harapan dan cita-cita yang kamu inginkan maka setinggi dan sekeras itu juga harusnya usaha yang harus kamu lakukan. Kalau target kamu adalah masuk perguruan tinggi negeri favorit seperti UI, ITB, UGM dan sebagainya, maka usaha keras dan belajar dengan maksimal kudu dilakukan. Mustahil untuk bisa lulus perguruan tinggi favorit hanya dengan usaha seadanya saja. Apalagi saat ini perguruan tinggi favorit melaksanakan ujian sendiri yang memiliki standar sendiri juga. Seperti UI ada SIMAK UI, UG dengan UM UGM, ITB dengan USM ITB.

9. BERDOA SUPAYA ALLAH MEMBUKAKAN PINTU HATI DAN PIKIRAN KAMU MENGHADAPI UJIAN.

Setelah usaha dilakukan maka langkah selanjutnya adalah berdoa, bahwa usaha tidak ada artinya tanpa doa. Berdoa agar Allah membukan hati dan pikiran kamu-kamu semua menghadapi ujian sehingga menjadi mudah.

10. SERAHKAN HASIL KEPADA ALLAH.

Setelah usaha maksimal dan berdoa, maka serahkan hasilnya sama Allah SWT. Kamu hanya perlu berusaha dan berdoa. Apapun hasilnya itulah yang terbaik untuk kamu menurut Allah. Jangan salahkan siapa-siapa kalau hasilnya kurang baik, mungkin usaha belum maksimal, mungkin lupa berdoa. Dan jangan sombong kalau berhasil karena keberhasilan bukan karena usaha kamu sendiri, bisa jadi pertolongan Allah SWT.

Selamat Menempuh Ujian Nasional 2012!  (^O^)/

Games untuk melatih otak kiri dan otak kanan

  • Eight game

Pura-puralah menulis angka delapan tidur atau simbol ? di udara dengan tangan kiri dan kanan secara bersama-sama. Permainan sederhana ini bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan. Cobalah dan teruskanlah permainan ini setelah sarapan, selama dua menit setiap hari.

  • Thumb game

Acungkanlah jempol tangan kiri dan kelingking tangan kanan, sambil menyorongkan kedua belah tangan ke arah kanan. Sebaliknya, acungkanlah jempol tangan kanan dan kelingking tangan kiri, sambil menyorongkan kedua belah tangan ke arah kiri. Permainan sederhana ini bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan. Cobalah dan teruskanlah permainan ini bersama teman-teman setelah makan siang, selama dua menit setiap hari.

  • Pattern game

Gambarlah pola-pola tertentu di atas kertas kosong, dengan tangan kiri dan kanan secara bersama-sama, ke arah dalam, luar, atas, dan bawah. Selain bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan, permainan unik ini juga dapat menggali potensi visual. Cobalah permainan ini selama dua menit setiap hari, minimal 14 hari berturut-turut.

  • Specific crawl

Gerakkan tangan kanan serentak dengan kaki kiri. Kemudian balaslah, gerakkan tangan kiri serentak dengan kaki kanan. Idealnya, siku tangan menyentuh lutut. Iringi pula dengan lagu favorit. Selain bertujuan untuk menyeimbangkan syaraf motorik kiri dan syaraf motorik kanan, gerakan ini juga dapat membuat pikiran terbuka terhadap hal-hal yang baru. Cobalah gerakan ini secara 10 menit setiap hari, minimal 14 hari berturut-turut.

  • Specific posturing

Bertumpulah di lantai dengan lutut kiri dan tangan kanan. Sementara itu, kaki kanan diluruskan ke belakang dan tangan kiri diluruskan ke depan. Posisi ini bertujuan untuk mengaktifkan syaraf-syaraf tertentu secara umum dan otak kanan secara khusus. Cobalah posisi ini selama 10 menit setiap hari, minimal 14 hari berturut-turut.

  • Specific relaxing

Tip ini khusus anak-anak. Pertahankan posisi relaksasi setengah tengkurap. Biasakan pula posisi ini ketika anak tidur. Semakin dini, semakin baik. Biasakan pula posisi ini ketika anak sakit, sambil dipeluk oleh orang tua. Dengan demikian, otak anak berada dalam frekuensi alpha dan anak akan merasa damai karenanya.

  • Rotated reading

Balikkan sebuah tulisan (atas bawah), lalu bacalah tulisan tersebut dari kanan ke kiri. Cobalah dan teruskanlah kebiasaan baru ini selama 2 menit setiap hari.

  • Left-handed foreplay

Tip yang boleh juga disebut Kamasutra ini khusus untuk lelaki yang telah menikah. Cumbulah pasangan Anda dengan menggunakan tangan kiri. (Bagi Anda yang belum menikah, jangan khawatir, Anda tetap bisa melakukannya. Caranya? Menikahlah dulu.)

  • Left-handed handling

Peganglah gagang pintu dan bukalah pintu dengan tangan kiri. Cobalah dan teruskanlah kebiasaan baru ini setiap hari.

  • Left-handed brushing

Gosoklah gigi dengan tangan kiri pada pagi hari. Untuk sore atau malam hari, tetaplah menggosok gigi dengan tangan kanan. Cobalah dan teruskanlah kebiasaan baru ini setiap hari.

  • Left-handed writing

Tulislah nama panggilan Anda dengan tangan kiri di atas kertas kosong. Cobalah kebiasaan baru ini minimal 10 kali sehari, minimal selama 14 hari berturut-turut. Niscaya Anda akan menemukan keajaiban, di mana pada hari ke-3 Anda dapat menulisnya dengan sangat mudah.

  • Left-handed signing

Buatlah tanda tangan Anda dengan tangan kiri di atas sehelai kertas kosong. Cobalah kebiasaan baru ini minimal 10 kali sehari, minimal selama 14 hari berturut-turut. Niscaya Anda akan menemukan keajaiban, di mana 2 dari 10 tanda tangan tersebut menyerupai bentuk aslinya.

MEMBANGUN INSAN CERDAS MELALUI PERCEPATAN PEMBERANTASAN BUTA AKSARA

Membaca merupakan kunci memasuki dunia pengetahuan yang maha luas. Membaca adalah jembatan untuk menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan ke dalam kehidupan sampai tercapai tatanan yang lebih baik dan sejahtera.

Membaca merupakan kunci memasuki dunia pengetahuan yang maha luas. Membaca adalah jembatan untuk menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan ke dalam kehidupan sampai tercapai tatanan yang lebih baik dan sejahtera. Membaca juga merupakan proses awal dalam sebuah perubahan menuju masyarakat bangsa yang maju dan madani.

Dalam “EFA Global Monitoring Report, Literacy for Life (2006), UNESCO menyimpulkan terdapat korelasi yang kuat antara kemampuan membaca dengan investasi dan kinerja seseorang. Membaca (keaksaraan) akan mempermudah seseorang untuk memahami informasi terkait bidang kerja dan berbagai aspek lain menyangkut peningkatan kualitas hidup. Laporan tersebut menilai bahwa masalah buta aksara merupakan masalah yang dimiliki oleh sebagian besar negara-negara dunia yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Kebutaaksaraan sangat terkait dengan kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan serta ketidakberdayan suatu masyarakat. Hal ini sangat berkaitan dengan sejarah suatu bangsa dimana umumnya negara-negara miskin dan korban jajahan memiliki penduduk dengan tingkat buta aksara yang tinggi.

Namun demikian, buta aksara sesungguhnya tidak hanya ada di negara-negara berkembang dan berpenduduk besar tetapi juga di negara-negara maju termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Bedanya, saat ini mereka sudah terbebas, sementara negara-negara bekas jajahan mereka masih menjadi penyandang buta aksara yang besar. Demikian pula dengan Amerika Serikat dimana tingkat buta aksara yang dialaminya dipengaruhi oleh dua masalah utama yaitu tingkat kelahiran dan komposisi etnis.

Laporan Antara tanggal 2 Mei 2008, menyebutkan bahwa pada tahun 1990, tiga orang ahli dengan berbagai spesialisasi yaitu Amartya Sen, Mahbud ul Haq serta Gustav Ranis mengembangkan suatu ukuran komperatif. Ukuran ini mengadopsi tiga hal  utama yang diyakini paling mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia, yaitu umur harapan hidup (life expectancy), tingkat melek aksara (literacy), kombinasi tingkat siswa yang mendaftar di sekolah dasar, menengah dan tinggi (gross enrollment ratio), serta tingkat kesejahteraan (product domestic bruto). Ukuran  itu dinamakan Human   Development Index (HDI). Dan Indonesia ditempatkan pada posisi 108 dari 177 negara.

Sementara itu, tingginya tingkat buta aksara di Indonesia disebabkan oleh lima penyebab utama, yakni tingginya angka putus Sekolah Dasar (SD), beratnya kondisi geografis Indonesia, munculnya penyandang buta aksara baru, pengaruh faktor sosiologis masyarakat, serta kembalinya seseorang menjadi penderita buta aksara.

Pemberantasan buta aksara merupakan pekerjaan yang tidak mudah, namun juga tidak mustahil uuntuk dilakukan. Upaya pemberantasan buta aksara saat ini dilakukan berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.

Pengalaman pemerintah Indonesia sejak tahun 1970-an menunjukkan tingkat pemberantasan buta aksara tidak terlalu stabil, namun dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Pada tahun 2006, penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas yang buta aksara menurun 8,07 persen atau 12.881.080 orang. Dari jumlah tersebut, 68,5 persennya adalah perempuan (Depdiknas, 2006). Penduduk Indonesia yang masih buta aksara umumnya berdomisili di pelosok pedesaan maupun di daerah-daerah terpencil. Pemerintah bertekad untuk menurunkannya hingga lima persen pada tahun 2009. Ini berarti pada tahun 2009 mendatang sekitar 7,5 juta pnduduk harus sudah melek aksara. Data BPS menunjukkan, setiap tahunnya pemerintah hanya mampu memberantas buta aksara antara 150.000-200.000 orang. Apabila tidak dilakukan suatu terobosan dalam pelaksanaan pemberantasan buta aksara, maka dibutuhkan sekitar 12,5 tahun untuk mencapai angka buta aksara 5 persen.

Dengan target penurunan angka buta aksara menjadi 7,7 juta orang pada akhir tahun 2009 berarti tingkat pemberantasan buta aksara selama periode tahun 2007-2009 harus mencapai 13,4 persen per tahun. Suatu angka yang tidak kecil dan menuntut kerja keras semua pihak, baik dari birokrasi, dalam hal ini Depdiknas dan Dinas Pendidikan di Provinsi, kabupaten/kota serta mitra dari LSM. Masalah pendanaan bukan lagi kendala setelah pemerintah berkomitmen mengalokasikan dana yang cukup besar bagi pemberantasan buta aksara (PBA), misalnya tahun 2007 dalam APBD setiap daerah disiapkan Rp. 247,4 miliar. Persoalan justeru muncul pada ketersediaan sumber daya manusia (SDM) pelaksana di lapangan.

Pemberantasan buta aksara di Indonesia memasuki babak baru. Seperti yang di kutip dari  Antara News 2 Mei 2008, Ibu Negara RI Ani Bambang Yudhoyono, memimpikan pada suatu hari nanti semua rumah di Indonesia akan menjadi rumah pintar, dan setiap anak Indonesia menjadi pintar. “Indonesia menjadi negara paling makmur di dunia,” kata Ibu Ani pada presentasi di Sidang UNESCO bertajuk “UNESCO Regional Conferences In Support of Global Literacy”, yang berlangsung di Beijing, China, akhir Juli 2007. Dalam dialog dengan para ibu negara dari sembilan negara, yaitu Amerika Serikat, Australia, Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Brunei Darussalam, Ibu Ani memperkenalkan tiga program yang berasal dari buah pemikirannya sendiri, yaitu Mobil Pintar, Motor Pintar, dan Rumah Pintar. Ketiga program ini sebenarnya telah digagas sejak tahun 2005 bekerjasama dengan Universitas Negeri Jakarta dan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). Pertimbangan yang paling mendasari gagasan ketiga program ini adalah sangat sulitnya masyarakat menjangkau perpustakaan. Dengan program Mobil dan Motor Pintar, masyarakat akan didatangi. Oleh karena itu, diharapkan program ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat dan semakin mempercepat pemberantasan buta aksara.

Pendirian Taman Bacan Masyarakat (TBM) merupakan sarana yang cukup efektif dalam upaya pemberantasan buta aksara.  Taman Bacaan Masyarakat merupakan bagian dari perpustakaan yang secara umum dapat memberikan pelayanan kebutuhan membaca di kalangan masyarakat. Pendirian TBM dapat mempercepat pemberantasan buta aksara, juga dapat menciptakan masyarakat gemar membaca (socity reading). Dengan semakin tinggi intensitas membaca seseorang, akan semakin banyak informasi dan pengetahuan yang diserap. Dampaknya memperkuat basis kecakapan hidup dan kompetensi yang dimiliki seseorang yang berujung pada meningkatnya kualitas kerja.

Selanjutnya kesuksesan pelaksanaan program pemberantasan buta aksara di berbagai pelosok tanah air diharapkan akan memperbaiki Human Developmen Indeks (HDI) yang saat ini berada di rating 108 dari 177 negara di dunia. Tapi di balik itu semua yang terpenting adalah lahirnya insan Indonesia yang cerdas, kreatif dan mandiri berkat membaca. Dan setelah itu tentu saja baru kita bisa dengan lantang mengatakan Bangkit Indnesia, Merdeka !!

PAUD MEMBANGUN PILAR MORAL BANGSA

“Kecil teranjak-anjak besar terbawa-bawa”, demikian salah satu pepatah Bahasa Indonesia yang menekankan pentingnya mendidik anak sejak dini.

“Kecil teranjak-anjak besar terbawa-bawa”, demikian salah satu pepatah Bahasa Indonesia yang menekankan pentingnya mendidik anak sejak dini. Demikian juga dalam kehidupan suku Batak Toba ada istilah atau peribahasa yang mengatakan “ Salah mandasor sega luhutan” yang artinya jika kita salah mendidik anak maka kesalahan tersebut akan terus dibawa sampai dewasa yang akibatnya akan buruk bagi diri dan lingkungan anak. Anak adalah masa depan bangsa, generasi yang akan meneruskan kehidupan dan martabat bangsa. Bagaimana Bangsa Indonesia mempersiapkan generasinya untuk tetap berharkat, bermartabat dan maju dalam segala bidang?

Dalam kurun waktu antara tahun 2000 sampai sekarang, perkembangan teknologi amat pesat. Anak-anak semakin pintar, permainan-permainan canggih juga sangat banyak. Di mana-mana terdapat permainan yang sangat diminati anak-anak bahkan seolah-olah menjadi ”kebutuhan” yang amat penting seperti video game, playstation dan lain-lain. Tetapi sungguh disayangkan kemajuan teknologi ini sangat sedikit memberikan pengaruh positif bagi anak-anak. Dengan bermain video game atau games on live (dalam internet) anak-anak tumbuh menjadi individual, kompetitif dan lingkungan sosialnya yang terbatas. Tontonan televisi juga banyak memberikan pengaruh negatif bagi anak dimana film dan kartun yang banyak menonjolkan kekerasan serta sinetron yang kurang mendidik seperti cerita mistik dan cerita yang tidak masuk akal. Banyak kasus kriminal yang terjadi di Indonesia yang dilakukan anak-anak, remaja bahkan orang tua terhadap anak merupakan dampak negatif dari kemajuan teknologi. Bahkan, hampir semua guru mengatakan bahwa tahun-tahun belakangan ini adalah masa-masa yang paling sulit untuk mendidik siswa-siswa di sekolah.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang akhir-akhir ini semakin santer terdengar adalah langkah pertama dan utama untuk menghindari kemungkinan permasalahan di atas terus berkelanjutan.

Melalui PAUD kita bisa membangun moral bangsa, sikap dan karakter dengan beberapa alasan yang sangat mendasar, antara lain :
Pertama, dasar pemikiran pentingnya PAUD adalah bahwa pembentukan karakter bangsa dan kehandalan sumber daya manusia ditentukan oleh perlakuan yang tepat kepada anak sedini mungkin, artinya pembelajaran diarahkan kepada pembentukan karakter agar anak bisa mandiri, bertanggung jawab, berani mengambil keputusan serta menghindari pendidikan yang sifatnya mengancam dan menakut-nakuti.
Kedua, tujuan PAUD adalah membentuk anak Indonesia yang berkualitas dimana anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal untuk memasuki pendidikan dasar serta fase kehidupan selanjutnya.
Ketiga, hasil yang diharapkan adalah anak mendapatkan rangsangan dan kesempatan yang besar untuk mengembangkan potensi dirinya dalam suasana penuh kasih sayang, aman, terpenuhi kebutuhan dasarnya dan kaya stimulasi.
Keempat, visi program PAUD terwujudnya anak usia dini yang sehat, cerdas, ceria, berbudi pekerti luhur serta memiliki kesiapan baik fisik maupun mental dalam memasuki pendidikan dan kehidupan selanjutnya.
Kelima, misi program PAUD mengupayakan layanan pendidikan bagi seluruh anak di Indonesia tanpa terkecuali dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya yaitu insan yang beriman, bertaqwa, disiplin, mandiri, inovatif, kreatif, memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi, berorientasi masa depan, serta mempunyai kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Keenam, pendidikan akan menghasilkan tiga perubahan yakni; pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif).

Bagaimana suatu bangsa akan kokoh bila moral masyarakatnya tidak lagi diperdulikan? Bagaimana suatu bangsa akan sejahtera bila anggota DPRnya adu jotos di kursi terhormat, bila pejabat atau pemerintah tidak lagi menganggap korupsi sebagai dosa? Tidak ada jalan lain untuk memperbaiki moral bangsa selain pendidikan yang baik dan benar serta berkelanjutan yang tentunya dimulai dari usia dini.

* Penulis adalah Pamong Belajar BP-PNFI Reg.I
dan Anggota National Earlychild Specialist Team (NEST)

PKBM BERBASIS KERAKYATAN MENUJU INDUSTRI

Keberadaan dan kiprah PKBM setelah lahirnya UU Sisdiknas semakin mencuat. PKBM bukan lagi plang nomor 2 dalam khasanah Pendidikan di Indonesia.

Pengantar

Keberadaan dan kiprah PKBM setelah lahirnya UU Sisdiknas semakin mencuat. PKBM bukan lagi plang nomor 2 dalam khasanah Pendidikan di Indonesia. Berdasarkan pengakuan konstitusi ini, tugas keluarga besar PKBM adalah merubah citra, pola dan perjuangan untuk sama sejajar dengan semua lembaga pendidikan  lainnya di Indonesia. Jika tidak, PKBM hanya dipandang sebagai sebuah lembaga proyek yang akan hidup berdasar belas kasih Pendidikan Luar Sekkolah (PLS), pada hal PKBM berada di tengah masyarakat dan kiprahnya ditunggu 90 juta masyarakat miskin yang ingin memperoleh pendidikan. Untuk itu, tugas PKBM harus cerdas, tersistim dan profesional agar keberadaannya eksis di masyarakat.
Krisis ekonomi yang masih terus berkelanjutan, ditambah lagi munculnya berbagai krisis seperti krisis politik, moral, intelektual telah turut menimbulkan dampak pada moral anak sebagai salah satu dampak dari keterbatasan waktu bagi orangtua untuk memperhatikan pendidikan anak.
Kebijakan pemerintah di bidang PLS dan PKBM, khususnya di Sumatera Utara merupakan hal yang sangat menggembirakan, dimana warga masyarakat khususnya masyarakat dengan berbagai keterbatasan dapat belajar tanpa batasan usia yang ditentukan. Waktu belajar juga dapat ditentukan bersama. Oleh karena itu PKBM merupakan salah satu wadah dan mitra untuk masyarakat dalam rangka mengangkat harkat dan martabat bangsa menjadi lebih mandiri, cerdas, terampil dan berguna bagi masyarakat itu sendiri.
Beragamnya niat, tujuan dan pola dalam menjalankan aktifitas PKBM membuat PKBM sampai saat ini belum bisa bangkit. Hanya beberapa PKBM saja yang terus bergeliat menuju perubahan dan  eksis di tengah masyarakat. Peran pengelola, Subdis PLS bersama Forum PKBM sangat besar dalam mensosialisasikan misi, visi dan tujuan PKBM untuk sampai ke target utama agar pelayanan prima bisa dinikmati oleh masyarakat.

PKBM Berbasis Kerakyatan Menuju Industri

Melihat fenomena dan keberadaan PKBM saat ini, Pengelola PKBM sudah harus berani, cerdas dan inovatif dalam merancang fundraising guna membiayai program, arif dalam melaksanakan capacity building dan mulai melakukan loby-loby dalam membangun networking, sehingga dapat menjawab permasalahan yang muncul serta mampu bertahan tanpa subsidi dari pemerintah.
Keberadaan PKBM saat ini sudah harus mulai diarahkan kepada pola PKBM Berbasis Kerakyatan Menuju Industri, dimana PKBM harus mampu mensinergikan programnya dengan program pemerintah melalui Dinas/Instansi terkait dan juga sudah dapat diarahkan menjalin kerja sama dengan dunia industri/perdagangan. Untuk itu PKBM harus merancang pola dan strategi berupa patron dan pemikiran yang di beri nama PANCALOGI PEMBAHARUAN PKBM :

1. Kebijakan Transisi (saat Anggaran belum turun, program harus jalan)
2. Pelaksanaan dan Pemeliharaan Program dan Asset PKBM
3. Perbaikan Mutu Hasil Pelayanan PKBM
4. Penataan Sumber Pendanaan PKBM
5. Penataan Atmosfir Kelembagaa PKBM

Kelima unsur akan di tata dalam KEBIJAKAN UMUM :
1. Penataan Sistim Informasi, Administrasi, Keuangan, kesetaraan & Lifeskill (Industri)
2. Peningkatan mutu pelayanan ke pada PD dan masyarakat bukan kepada oknum PLS (birokrat)
3. Relevansi (Link and Mach- Lifeskill berbasis Industri)
4. Pemerataan Kesejahteraan dan SDM (Pengelola, Penyelenggara,  Tutor & Peserta Didik)

Penutup

Mengenai Konsep PKBM Berbasis Kemasyarakatan Menuju Industri dapat dikembangkan sesuai dengan karakter PKBM yang diselaraskan dengan karaketer sosial dan budaya lingkungan PKBM.

MENDONGKRAK HUMAN DEVELOPMENT INDONESIA (HDI) MELALUI PROGRAM PENDIDIKAN KEAKSARAAN

Awalnya memang hanya sebatas keaksaraan, hanya masalah a, b, c ,d dan seterusnya. Memang kedengarannya bagi sebahagian orang dianggap sebagai hal yang sepele bahkan bisa diabaikan. Tetapi dari masalah yang kedengarannya sepele ini Indonesia telah ditempatkan menjadi Negara yang terpuruk di dunia Internasional. Suara Merdeka, Jumat 27 Juli 2007 menyebutkan bahwa sampai dengan pertengahan 2007 ini  Human Development Index (HDI) atau disebut juga dengan Indeks Pembangunan Manusia berada pada posisi 108 dari 177 negara, dan hal itu secara faktual  disebabkan oleh karena masih banyaknya penduduk yang menyandang buta aksara.

Paradigma untuk pendidikan keaksaraan secara global saat ini mengalami perluasan makna.  Pendidikan keaksaraan saat ini bukan hanya berkutat pada masalah kesenjangan kecakapan membaca, menulis dan berhitung, tetapi hal itu juga menyangkut kecakapan-kecakapan tertentu dan penguasaann keterampilan praktis yang kontekstual dan selaras dengan perubahan peradaban manusia yang melahirkan konsekuensi logis tentang adanya tuntutan-tuntutan baru terhadap setiap individu. Problem seperti ini akan menciptakan kesenjangan yang hanya bisa dijembatani oleh pendidikan, khususnya pendidikan non formal. Pendidikan keaksaraan sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam dunia pendidikan nonformal ini pun tidak terlepas dari tugas dan fungsinya yaitu sebagi pelengkap (suplemen), penambah (komplemen), dan pengganti (subtitusi) yang tercipta dari suatu system pendidikan secara menyeluruh.

Keterpurukan Negara Indonesia di dunia Internasional tentu saja membuat gerah kita semua, tak terkecuali Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) yang memang harus bertanggung jawab atas kondisi tersebut.
“Kalau program keaksaran fungsional (KF) diterapkan dengan baik, saya yakin itu cara paling mudah untuk meningkatkan IPM Indonesia,” kata Mendiknas berkaitan dengan keterpurukan tersebut, saat membuka seminar dua hari bertema Pendidikan Serumpun Indonesia-Malaysia-Singapura, di Kota Batam, Kepulauan Riau, 17 Juni 2007(Waspada Online, 18 Juni 2007).
Dari pernyataan Mendiknas tersebut jelas bahwa untuk meningkatkan HDI caranya dengan memberantas buta aksara.
Hanya saja yang menjadi persoalan bagaimana mencari metode dan strategi yang tepat dan cepat untuk memperbaiki posisi HDI/IPM Indonesia itu.
Kita tahu bahwa buta aksara memang telah menyumbangkan angka yang tinggi bagi keterpurukan bangsa Indonesia di dunia Internasional. Masyarakat penyandang buta aksara cenderung memiliki tingkat produktivitas yang rendah karena kondisi buta aksara terkait erat dengan kebodohan, keterbelakangan, pengangguran dan ketidak berdayaan. Kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan yang di derita oleh penyandang buta aksara akan menyebabkan terbatasnya wawasan untuk berpartisipasi dalam dunia pendidikan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya. Kondisi kemiskinan itupun pada gilirannya melahirkan rasa tidak percaya diri sehingga apatis terhadap segala bentuk perubahan demi kemajuan dan menganggap hal itu sebagai ancaman. Hal ini kemudian memiliki kecenderungan menjadi beban orang lain dan masyarakat secara umum.
Melihat kondisi demikian maka mereka yang menyandang buta aksara harus segera di bebaskan dari jeratan problem yang melilitnya selama ini, yakni ketidak mampuan membaca, menulis dan berhitung (calistung).
Namun yang juga harus diperhatikan adalah model dan cara pendekatan yang bagaimana program pemberantasan  buta aksara tersebut dapat efektif dilaksanakan? Pertanyaan tersebut patut diperhatikan karena pendidikan keaksaraan memiliki sistem dan metode pengajaran yang berbeda dari pendidikan formal yang kebanyakan orang tahu.
Pendidikan keaksaraan umumnya melibatkan orang-orang yang kurang mampu dari segi ekonomi dan usia yang telah matang dan kaya pengalaman. Berbeda dengan pendidikan formal yang umumnya dari ekonomi dapat dikatakan telah mampu dan usia yang relatif sama dalam suatu proses pembelajaran.
Fakta tersebut cukup membuat gerah kita bangsa Indonesia, tak terkecuali kita yang berada di pendidikan jalur non formal.  Seperti diketahui bahwa program pemberantasan buta aksara ini bukanlah program baru kemarin, namun program ini telah ada sejak tahun 1948.
Menurut data, catatan pendidikan keaksraan dimulai pada tahun :
1. 1948 : Lahirlah sebuah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang menyiratkan hak untuk melek aksara merupakan bagian integral dari hak untuk memperoleh pendidikan. Hak ini kemudian terus didengungkan pada konvensi dan deklarasi internasional yang lain.
2. Tahun 1950: Kiprah yang dilakukan oleh organisasi-organisasi internasional -– terutama UNESCO — sangatlah berpengaruh terhadap penetapan kebijakan keaksaraan yang dilakukan oleh negara-negara di dunia, terutama negara-negara berkembang yang masih menghadapi persoalan keaksaraan. Kebijakan-kebijakan itu kemudian diterjemahkan dalam suatu rencana aksi yang pro aktif dan realistis serta aktivitas semacamnya dalam rangka terus mengembangkan dan meningkatkan pelayanan terhadap pendidikan keaksaraan. UNESCO terus mendukung perluasan keaksaraan orang dewasa sebagai bagian dari usaha bersama untuk memajukan pendidikan dasar.
3. Tahun 1957: Dilakukan survei global pertama tentang keaksaraan orang dewasa dan hasilnya langsung dipublikasikan. Pada saat yang sama, para pengambil kebijakan telah mempertimbangkan suatu strategi untuk menempatkan pendidikan dan keaksaraan sebagai media yang lebih baik dalam mengakomodir kepentingan setiap individu untuk berpartisipasi dan memanfaatkan suatu modernisasi ekonomi. Publikasi ini dan yang lainnya telah memberikan kontribusi pada standar definisi keaksaraan.
4. Tahun 1958: Konferensi UNESCO mengadopsi standar definisi keaksaraan berdasarkan publikasi hasil survei global tersebut.
5. Tahun 1960: Diadakan suatu konvesi dunia untuk melawan diskriminasi dalam bidang pendidikan, khususnya yang berkenaan dengan isu penjegalan terhadap siapa yang tidak menyelesaikan atau yang tidak dapat bersekolah di Sekolah Dasar. Pada tahun yang sama pula dan selama satu dekade berikutnya masyarakat internasional menetapkan suatu kebijakan untuk menekankan peran keaksaraan dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional, khususnya di negara-negara mandiri.
6. Tahun 1975: Deklarasi Persepolis menggambarkan keaksaraan sebagai ”fondasi hak asasi”.
7. Tahun 1978: Konferensi UNESCO merefleksikan munculnya pemahaman tentang peran keaksaraan dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional serta mengadopsi sebuah definisi Keaksaraan Fungsional yang kemudian digunakan hingga sekarang, yaitu: “Seseorang yang keaksaraannya fungsional adalah yang dapat menggunakan keaksaraan dalam seluruh aktivitasnya yang berfungsi secara efektif bagi kelompoknya dan masyarakat, juga memberikan kemungkinan baginya untuk menggunakannya dalam membaca, menulis dan berhitung bagi perkembangan dirinya sendiri maupun masyarakat.”
8. Tahun 1979: Diadakan konvensi tentang Penghapusan Seluruh Bentuk Diskriminasi Melawan Wanita. Hal ini merupakan rangkaian dari gerakan untuk melawan diskriminasi terhadap hak-hak individu terutama dalam memperoleh pelayanan pendidikan.
9. Tahun 1989: Diadakan konvensi mengenai Hak Anak Mengenali Keaksaraan. Pada konvensi ini kembali ditegaskan bahwa pendidikan adalah sebuah hak. Konvensi ini –- juga konvensi tahun 1979 tentang Penghapusan Seluruh Bentuk Diskriminasi Melawan Wanita — berisi acuan eksplisit untuk mempromosikan keaksaraan. Pada tahun yang sama Konvensi ILO tentang Masyarakat Suku dan Orang Pribumi menyatakan bahwa dimanapun bisa dilaksanakan, anak-anak diajar untuk membaca dan menulis dalam bahasa asli mereka dan seharusnya diambil pengukuran yang cukup untuk memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan untuk memperoleh kelancaran dalam bahasa yang resmi.
10. Tahun 1990: Deklarasi Dunia tentang Pendidikan Untuk Semua yang diadopsi di Jomtien Thailand, menempatkan keaksaraan dalam konteks lebih lebar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar bagi setiap anak, pemuda dan orang dewasa.
11. Tahun 1993: Deklarasi Viena menyebutkan bahwa seharusnyalah suatu negara memiliki itikad dan tekad untuk menghilangkan jumlah penyandang buta aksara, bertindak sebagai pihak penghubung suatu usaha untuk mendapatkan rasa hormat yang lebih besar serta melakukan perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan pribadi.
12. Tahun 1996: Ditandatangani sebuah Perjanjian Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politis. Garis besar isi perjanjian itu adalah menyangkut hak kaum minoritas untuk menggunakan bahasa mereka sendiri. Hal ini merupakan inspirasi dikembangkannya model pembelajaran keaksaraan melalui pendekatan bahasa ibu (mother tongue).
13. Tahun 1997: Deklarasi Hamburg kembali menekankan tentang paradigma keaksaraan sebagai ”fondasi hak asasi” sebagaimana yang telah digambarkan untuk pertama kalinya pada Deklarasi Persepolis tahun 1975. Beberapa instrumen dari Deklarasi itu menekankan pada bahasa sebagai media efektif bagi individu untuk memperoleh melek aksara.
14. Tahun 2002: Kerangka Kerja Dakkar untuk Aksi dan Resolusi General Assembly tentang Dekade Melek Aksara PBB 2003-2012, mengakui bahwa melek aksara adalah jantung pembelajaran sepanjang hayat. Resolusi tersebut juga menyatakan bahwa ”Keaksaraan adalah krusial untuk diperoleh oleh setiap anak, pemuda, dan orang dewasa, kecakapan hidup yang esensial yang memungkinkan mereka untuk menghadapi tantangan hidup dan menghadirkan sebuah langkah esensial dalam pendidikan dasar dimana ini harus ada atau sangat dibutuhkan bagi partisipasi efektif masyarakat dan perekonomian di abad 21”. Masyarakat internasional (lebih lanjut digarisbawahi dalam resolusi dimensi sosial keaksaraan) mengenali bahwa “Keaksaraan adalah jantung pendidikan dasar untuk semua dan menciptakan lingkungan dan masyarakat terpelajar adalah hal yang esensial untuk mencapai tujuan pembasmian kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, menahan laju pertumbuhan populasi, mencapai persamaan gender dan memastikan pembangunan yang berkelanjutan, kedamaian dan demokrasi.

Melihat catatan diatas jelaslah bahwa usaha pemberantasan buta aksara tersebut telah lama di lakukan, namun sejauh mana keberhasilan pemberantasn buta aksara tersebut dapat dicapai? Perlu kerjasama bagi kita semua.
“Kalau program keaksaran fungsional (KF) diterapkan dengan baik, saya yakin itu cara paling mudah untuk meningkatkan IPM Indonesia,” kata Mendiknas berkaitan dengan keterpurukan tersebut, saat membuka seminar dua hari bertema Pendidikan Serumpun Indonesia-Malaysia-Singapura, di Kota Batam, Kepulauan Riau, 17 Juni 2007(Waspada Online, 18 Juni 2007).
Sistem jemput bola yang ditawarkan oleh Mendiknas memang patut diacungkan jempol, karena jika hanya mengandalkan warga belajar yang datang ke lokasi belajar, sepertinya hal itu hanya akan menjadi persoalan baru bagi dunia pendidikan keaksraan. Karena bukan tidak mungkin mereka yang penyandang buta aksara akan merasa lebih penting untuk berangkat kerja dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari pada harus belajar dan tidak bisa secara langsung mengubah ekonomi mereka. Karena itu para penggiat pemberantasan buta aksara harus mengawali tugas mereka dengan mengubah paradigma dan cara berpikir para peserta didik yang terkesan pasrah akan kehidupan mereka.
Pendekatan secara kekeluargaan dan  pendekatan sosial bisa dilakukan untuk mengubah paradigma mereka bahwa bagaimanpun kemampuan calistung akan sangat berguna dan membantu mengatasi persoalan-persoalan kehidupan, bahkan dapat mengangkat derajat dan taraf hidup penyandang buta aksara.

Sejak lama problem pemberantasan buta aksara selalu mewarnai pembangunan di Indonesia. Setiap tahun angka penyandang buta aksara dilaporkan semakin berkurang, namun pada kenyataannya HDI/IPM manusia tetap berada pada angka terendah, dengan 15 juta penduduk Indonesia masih berada pada keadaan buta huruf.
Melihat kondisi tersebut, Mendiknas juga tidak tinggal diam, melalui instruksinya seluruh Bupati, Camat dan Kepala Desa harus turut dalam pemberantasan buta aksara di daerahnya masing-masing dengan melibatkan pula organisasi kemasyarakatan (ormas) dan LSM seperti NU, Muhammaddiyah, Aisyiyah, PKK dan lainnya.
Persoalan penyandang buta aksara merupakan masalah klasik, berbagai program telah dilakukan di dalam pembenahan pendidikan luar sekolah, berbagai program telah pula dilakukan, namun masalah penyandang buta aksara masih saja menjadi batu sandungan bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
Program pendidikan keaksaraan yang menerapkan pembelajaran membaca, menulis dan berhitung dan aksi untuk memecahkan masalah yang dihadapi warga belajar dalam kehidupan sehari-hari sampai saat ini dianggap adalh yang terbaik, pada program ini tak hanya bidang keaksaraan yang disentuh, tapi juga martabat dan harga diri peserta didik ikut di junjung.
Selain pendekatan sosial yang telah diterapkan akan lebih baik lagi jika dilakukan pendekatan kesejahteraan melalui berbagai program kegiatan pelatihan keterampilan yang sesuai dengan potensi local daerah masing-masing penyandang buta aksara. Selain itu untuk melestarikan program pembelajaran dan untuk mencegah terjadinya kembali buta aksara bagi warga belajar yang telah di belajarkan, program Taman Bacaan Masyarakat (TBM) juga patut untuk dilakukan. Tidak kalah penting, pemberian kepercayaan kepada ormas dan LSM sebagai pelaksana maupun pendamping pelaksanaan program pemberantasan buta aksara harus terus dipertahankan.

Jika semua itu bias dilaksanakan, Insya Allah pada tahun 2009 penyandang buta aksara di Indonesia dapat turun menjadi lima persen akan dapat terwujud, dan tentu saja dengan turunnya angka buta aksara ini maka HDI?IPM Indonesia juga akan meningkat. Insya Allah.

%d bloggers like this: